Selamat Datang Peserta Didik Baru angkatan 2017/2018 di SMK Negeri 1 Tanjung Agung. Sebanyak 193 siswa/siswi yang diterima tahun ini, semoga menemukan apa yang diharapkan, yaitu : SKILL INDIVIDU sesuai TUNTUTAN DUNIA KERJA yang akan bergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN ... Tampa SKIL, kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Gunakan waktu di SMK selama 3 tahun ini untuk KRITIS dan FOKUS dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar.
SMK Hebat
Sabtu, 24 Juni 2017
Jumat, 07 April 2017
KELUMPAI TANAH ABANG
Tahun
1299, Syeh Nurul Ikwan, ulama besar, dari negeri jauh menyeberang
lautan dengan membawa panji Islam, masih keturunan Umar Ibnu Khatab.
Tahun
1317, Syeh Nurul Ikwan menikah dengan putri Raja Mesir yang kaya raya
bernama Puteri Mayang Sawitei. Tahun ini juga lahir anak laki-laki
bernama Karif Muarief, di asuh dididik ilmu agama, ilmu kesaktian dan
diberi pusaka agama Islam.
Tahun
1432, Karif Muarief diperintahkan Syeh Nurul Ikwan mengembara.
Karif
Muarief pergi ke negeri Gujarat, mampir ke negeri China, mampir ke
negeri Pahang tanah Melayu, sampai ke Negeri Bawah Angin (Bukit
Sulap). Juga mampir ke Talang Gumilang Malake Kahurip tanah Malake
dan bertemu Rie Carang Sakti Adipati.
Setelah
berdiskusi dan banyak mendapatkan pelajaran serta ilmu setelah lama
berdiam disana, Karif Muarief melanjutkan perjalanan ke hilir sungai
Lematang, sampailah ke Kebun Undang. Penguasa sukses turun temurun,
setelah lama berdiam di Kebun Undang, Karif Muarief diajak Penguasa
Kebun Undang berkeliling memeriksa negara bersama Hulu Balang Sakti
bernama Adipati Muria Dinata. Setelah berkeliling, di tepian sungai
Lematang bertemu orang Hulu Sungai Komering, orang Jawa, orang Bukit
Sulap, orang Bantam, orang Besemah. Ternyata mereka datang tampa di
undang dengan membawa istri untuk belajar bertani.
Di
pusake anak keturunan Kebun Undang terkenal nama Karif Muarief
seorang ulama sakti perkasa yang memiliki banyak murid untuk didik
ilmu agama islam dan ilmu sakti. Empat orang murid utama adalah :
- Jolang Seno (Bang Muria) - berasal dari tanah Jawa
- Malim Mukidin
- Soleh Ambar
- Alan Pasal - berasal dari tanah Kombering.
Setelah
mendapatkan ilmu agama dan ilmu dunia, empat murid ini oleh penguasa
Kebun Undang diangkat patih : Malim Mukidin - Patih Kuase Negare
Dangku, (Guru Agama Ke Tiga) Soleh Ambar - Patih Kuasa Negara Nakat,
Alam Pasal – Patih Kuasa Negara Curup. Ke empat orang ini disebut
Empat Sejanjung Seurai atau Serasan Sekundang Setungguan. Dikenal
dengan nama Empat Petulai Hulu Balang.
Empat
Petulai ada menguasai negara Patih orang jawa – Negara Heban Batu
nama dahulu, dikenal pula Tanah Abang tahun 1497. Yang dimaksud Lemah
Abang diartikan tanah yang dikuasai orang Jawa, ada juga dikatakan
seorang datang dari tanah Jawa negara Aceh bernama Syeh Karim Ulia.
Syeh
Karim Ulia bersama Karif Muarief keliling memeriksa negara Karif,
karena Lemah Abang banyak datang orang dari jauh tampa diundang. Syeh
Karim Ulia diserahkan keris sakti Naga Sakti guna membela negara.
Juga disebut-sebut, Syeh Karim Ulia dan Karif Muarief pernah
mengembara ke Bukit Siguntang sampai ke Muara Lematang, tidak
menemukan penguasa daerah. Mereka terus ke hulu Sungai Lematang,
singgah di Tanah Malake Kahurip – bertemu Rie Carang Sakti Jaka
Adipati. Bertiga bersepakat mengembara ke Merapi dan bertemu penguasa
yang menganut Agama Budha Shiwa bernama Mura Zaman. Setelah
berdakwah, sang penguasa Merapi tidak menerima ajaran Agama Islam.
Hulu Balang Merapi bernama Kunci Petala diperintah bertempur dengan
Rie Carang Sakti Jaka Adipati. Setelah Hulu Balang tewas, Sang Raja
Merapi turun tangan bertempur dan tewas juga.
Setelah
itu Karif Muarief + Syeh Karim Ulia + Rie Carang Sakti Jaka Adipati
kembali ke negara Kebun Undang Lemah Abang, sempat mampir ke Talang
Gumilang Kahurip Malake Sungai Lematang.
Ketika
Syeh Karim Ulia kembali ke Negeri Cempaka Negara Aceh, Syeh Karim
Ulia bertemu Syeh Jalil – anak Raja Penguasa Ayek Hening Syeh
Jalaludin. Bersama Syeh Jalil, mengembara ke Gunung Dempo, sampai ke
Gunung Bungkuk. Di Gunung Bungkuk bertemu Raden Cili dan bersepakat
mengembara ke Bukit Siguntang, karena tidak ditemukan Raja Penguasa
di Palembang, maka perjalanan terus kembali dan singgah di Tanah
Abang.
Syeh
Karim Ulia kembali ke Negeri Aceh, Karif Muarief mengembara ke negeri
Dangku bertemu Patih yang memerintah negara Kujur Ireng Tege Sejurai.
Dikatakan :
1.
Kumbang Ireng satu.
2.
Pasak Bumi satu.
3.
Gangse Burai satu.
4.
Pedang Pandak dua bernama Sejajar Melayang Kute dan Pendawe (Pendawe
dibuat tahun 1197).
5.
Pedang Panjang ilmu sejajar, yaitu : Cikar Bumi disebut Tige Kute dan
Ikan Belang (tahun 1201 Nika) dalam tahun 1212 disebut Belang Kuning.
Tahun
1240 kelima pusaka disebut Lime Sekuntum. Pusaka ini digunakan Hulu
Balang Dangku perang untuk Islam melawan musuh agama Islam orang
beragama Budha (orang Palembang).
Hulu
Balang Sakti Dangku bernama Adia Tara adalah seorang Hulu Balang
Sakti berasal dari tanah Mataram, bermaksud mengembangkan agama
Islam. Berlayar sampai ke Negeri Jambi, berjalan sampai ke Muara
Enim. Terus ke hilir menelusuri Sungai Lematang, mampir ke Muara
Haman (Tanjung Raman), mampir ke Malake Talang Gumilang Kahurip
bertemu Raja Sakti Muhammad Said. Setelah sambutan, terungkap bahwa
Syeh Nurul Ikwan beragama sama dan sepakat mengucap janji
seperjuangan.
Barang
yang dibawa adalah Baju Pusaka Sakti tanah orang suci tiga sejunjung,
baju Raja diraja, senjata keris sejajar bernama Belang Sembilan satu
(bertahun 1203), Keris bernama Buaya Putih di pusaka Syeh Nurul Ikwan
(bertahun 1202), pusaka dari tanah suci Kute Minna, Keris bernama
Layang Titik di pusaka Syeh Nurul Ikwan (bertahun 1202), Keris
Sembilan Luk bernama Elang Putih satu dari negeri Madinah, Keris
bernama Burung Sewake – keris sakti dan terlihat buruk rupa tak
berharga dari tahun 1214 dari Madinah. Jika nanti keris ini tidak
dirawat, akan bertanya pada keturunan Air Hitam, keturunan Kahurip.
Jika tidak ada, kembali bertanya ke puyang di Curup dimana keturunan
Curup menyimpan pusaka Syeh Nurul Ikwan. Pusaka Cakra Alam (bertahun
1220) digunakan Raja mengembara, diserahkan Syeh Nurul Ikwan pada
Karif Muarief.
Awal
cerita ditahun 1214 pedang pendek kecil disebut Cikar Samudra,
diceritakan Syeh Nurul Ikwan orang keturunan Arab asli mengembara ke
Kebun Undang Sungai Lematang. Raja yang bijaksana juga membuat nama
Tanjungan Ular / Tanah Besiku (tanah tanjungan air deras balik ke
hilir). Pusaka Raja yaitu sebuah kujur bernama Petir Kuning sebuah,
keris bernama Tanding Laga satu, keris iring pandak sebuah. Tahun
1253 keris Iring Pandak ini didapat Syeh Nurul Ikwan dari tanah Pari
yang merupakan hadiah Raja Mataram yang pernah menjadi murid utama
Syeh Nurul Ikwan yang di didik ilmu sakti dan ilmu perang serta ilmu
senjata. Inilah asal mula keturunan Raja Mataram berkembang turun
temurun di Sungai Lematang, Raja Mataram ini beristrikan seorang
putri keturunan Raja Johor tanah Melayu yang berkuasa dan terkenal
sakti. Ketika Karif Muarief dewasa diberi senjata pedang panjang
sebuah bernama Dewa Jagat bertahun 1287, kujur sakti dua buah
(sepasang) bernama Putri Rimba dan Layang Kumbang. Diberi juga Bebat
bemate intan Baidri, ada 3 bebat bemate : digunakan ketika terjadi
huru-hara peperangan, digunakan jika dipakai tidak mempan senjata,
digunakan ketika musim paceklik. Diberi tongkat putih berhulu ular
hadiah dari Raja Bukit Siguntang diberikan pada Syeh Hamimi – putra
Syeh Muhammad Said (Penguasa Talang Gumilang Tanah Malake Kahurip)
berupa keris sakti bernama Cikar Negare. Tahun 1399, senjata ini
dibawa balik ke Kebun Undang, dibawa mengembara mudik, mengembara
Bukit Siguntang, kembali lagi dan sempat singgah ke Dangku.
Ketika
tahun 1492, ada perampok Besemah sakti kuase Gunung Dempo bernama
Lumbah Buarai bersama Hulu Balang bernama Tambor masuk ke Negeri
Lemah Abang. Hulu Balang Raja bernama Bang Muria bertarung dua lawan
satu, Lumbah Buarai tewas dan Tambor melarikan diri. Setelah
diperiksa dan dirawat oleh Karif Muarief, Bang Muria diberi tambahan
ilmu bertarung, ilmu agama Islam dan ilmu membuat senjata dengan cara
di urut.
Karif
Muarief memiliki pedang panjang pusaka turun temurun bernama Baiduri,
tahun 1241 pernah digunakan bertanding pedang. Karif Muarief memiliki
pusaka turun temurun berbentuk ketupung buruk rupa bernama Tekawang
Dewa. Memiliki keris pusaka bernama Cikar Bumi (bertahun 1219), juga
memiliki pedang pendek bernama Duyung Samudra - tahun 1232 pernah
digunakan untuk pertamakali membabat belukar untuk bertani. Kujur
Sakti bernama Layang Bumi pernah digunakan tahun 1216 ketika ada huru
hara.
Tahun
1432, terjadi pertempuran antara Karif Muarief dengan dengan Raja
Rampok dari Gunung Ibul bernama Panatik beserta seorang perampok
ulung sakti Gunung Merakse bernama Jamrik. Ada Raja rampok Besemah
bernama Bedasang masuk Kebun Undang, dihadang Hulu Balang Kebun
Undang. Perampok ulung Gunung Merakse tewas ditangan Karif Muarief
dan perampok Gunung Ibul melarikan diri.
Tahun
1371, sampai Negara Pagar Ruyung dan raja beragama Islam ini bertemu
Syeh Nurul Ikwan dan berdiskusi masalah agama Islam. Disampaikan
bahwa meraka akan mengembara keliling ‘sapte negare’, mampir di
Bukit Siguntang bertemu Raja Pelimbangan Sanghiang yang memeluk agama
Hindu Budha. Tidak terima dengan dakwah, Raja Pelimbangan bertempur
dengan Syeh Nurul Ikwan. Setelah Raja Pelimbangan tewas, tidak terima
maka Hulu Balang Pelimbang juga turun bertempur dan kalah. Hulu
Balang Raja pelimbangan memohon diasuh dan dibina dengan menyerahkan
pusaka keris sebagai tanda takluk.
Saat
kembali mudik ke Kebun Undang, sedang terjadi pertempuran Hulu Balang
Kebun Undang bernama Aria Adiwinata dengan perampok dari Besemah
bernama Taburo, perampok dari Gunung Merikse Tige dan perampok dari
Gunung Ibul. Taburo tewas dan kepalanya dipenggal oleh Hulu Balang
kebun Undang, perampok Gunung Ibul dapat ditundukkan dan menerima
ajaran agama Islam, diserahkan pada Syeh Nurul Ikwan. Perampok Gunung
Merakse kalah dan pulang tampa hasil.
Setelah
pertempuran, Syeh Nurul Ikwan mennambahkan ilmu lagi pada Hulu Balang
Kebun Undang dan menyampaikan amanat jika Beliau meninggal maka keris
pusaka dibagi dua dengan Karif Muarif.
Setelah
menambah ilmu, Raja Sakti Karif Muarief mengembara ke hillir Sungai
lematang, bertemu dengan makam Syeh Angkasa Ibrahim – orangtua
penguasa negeri Muara Haman (Tanjung Raman). Terus mengembara sampai
negara Pulumbungan (Palembang) dan bertemu Raden Rahmad seorang ulama
sakti agama Islam dari Negara Islam Aceh. Setelah berdiskusi, berdua
mengembara bersama dan berencana mendirikan negara Islam. Rencana
tidak terlaksana karena Karif Muarief meninggal di negeri Minna tahun
1486, Kebun Undang diteruskan anaknya yang bernama Said Patahilla
yang juga disebut Syarif Hidayat.
Permulaan
Karif Muarif beristri putri Campa bernama Rubiah dan memiliki dua
orang anak bernama Jadhil Mudhahil dan adiknya Syarif Hidayat.
Setelah didik ilmu agama, ilmu dunia, ilmu senjata dan ilmu perang,
Jadhil Mudhahil kembali ke Madinah dan Syarif Hidayat mengembara ke
Aceh. Syarif Hidayat terkenal di negara Cina, juga dikenal ditanah
Melayu bijaksana lagi perkasa membawa agama Islam sebagai ulama dan
sebagai santri. Syarif Hidayat diangkat Raja Pasai sebagai Hulu
Balang Negara Pasai Aceh.
Rubiah
si Putri Campa (Jeumpa) dari Negeri Aceh yang dipimpin Raja Syeh
Malikul Zahir meninggal tahun 1489, ketika sedang sakit, Jadhil
Mudhahil kembali ke Kebun Undang atas perintah ibunya – Rubiah,
demikian pula adiknya Syarif Hidayat. Setelah pulang, Jadhil Mudhahil
ingin memerintah di kebun Undang, tapi tidak dapat izin dari ibunya.
Tahun 1498, Jadhil Mudhahil meninggal dunia di Kebun Undang.
======
TUTUP ====
Catatan
:
1.
Isi terjemahan kaghas selanjutnya
adalah cerita pujian pada Syarif Hidayat dan berisi petunjuk
tentang tata cara mengurus pusaka baghi dan berisi
terawangan/petunjuk yang didapat oleh Syarif Hidayat tentang masa
depan. Contoh : a. Tahun Sutik Sanga Pitung Sanga ada negara Islam
yang Raja Terbesar tanah suci meninggal dunia. B. Tahun Sutik Sanga
Kace Mate Bola Raja-raja negara Islam sepakat janji saling menolong
saling menjaga. Raja-raja Islam berkumpul ditanah suci juga ulama
besar Islam dari Pulau Pari, ada juga masuk pulau Kelapa dan
berkeliling ditanah pusaka, ada kekacauan ditanah pusaka, ada Luruk
Tahun.
2. Isi
terjemahan memang ada yang dipotong, terutama pada bagian
pertempuran yang menceritakan detail pertempuran (melayang diair,
terbang dan sebagainya)
3.
Walau tidak ditulis sama persis
seperti terjemahan asli, dipastikan, tulisan ini tidak mengurangi
makna dan isi cerita.
4.
Tulisan ini masih sesuai alur
cerita pada terjemahan asli, sumber terjemahan Elita Wati.
5.
Kritik dan saran ke : Adi Gumay
6. Korelasi informasi, dilihat di http://sejarahbenakat.blogspot.co.id/ dan https://infokito.wordpress.com/2016/04/17/sejarah-dusun-tanjung-raman/
6. Korelasi informasi, dilihat di http://sejarahbenakat.blogspot.co.id/ dan https://infokito.wordpress.com/2016/04/17/sejarah-dusun-tanjung-raman/
BEBUE DARMO
Ketika
tahun 1394, ada seorang laki-laki bernama Said
Abdul Syukur
(Saik Abdul Syukur / Syeh Abdul Syukur) – seorang
ulama besar agama Islam yang datang dari Pasai Aceh.
Pertama
mengembara (syi’ar) agama Islam adalah ke Gunung Bungkuk. Setelah
sampai di Gunung Bungkuk, bertemu Raja
Gunung Bungkuk
yang bernama Ratu
Agung.
(lanjutan teks ini terputus karena sudah tidak terbaca lagi oleh
penterjemah).
Ratu
Agung di Gunung Bungkuk merupakan penganut agama Islam. Tidak lama di
Gunung Bungkuk, Said Abdul Syukur melanjutkan perjalanan ke Kute
Heban Batu dan bertemu Penguasa
Kute Heban Batu
yang bernama Pekik
Nyaring Arya Sakti
yang terkenal sakti perkasa.
Setelah
berdiskusi panjang lebar, berdua sepakat untuk sama-sama merantau dan
menyebarkan agama Islam.
Ketika
sampai ke Kute Muahe Hening (Muara Enim), bertemu dengan penguasa
Muara Enim - Syeh
Jalaluddin.
Diantar meninjau Muara Enim dan terlihat pertanian subur, agama Islam
sempurna dan umat patuh pada ajaran Islam, kehidupan makmur. Terlihat
sudah berdiri Patang Puluh Bubung Sudung.
Said
Abdul Syukur dan Pekik Nyaring Arya Sakti serta Syeh Jalaludin
kemudian melanjutkan ke Kute Tanjungan Ayek Hening (Tanjung Enim)
yang beragama Islam dan disambut hangat oleh Raja
Tanjungan Ayek Hening.
Selanjutnya
melanjutkan perjalanan ke Kute Lawang Kidul Ayek Hening (Lawang
Kidul). Ketika sampai di Kute Lawang Kidul, sedang terjadi kekacauan
karena ada perampok ulung dari Besemah yang bernama Benawa
akan merampok pusaka di Kute Lawang Kidul. Raja Kute Lawang Kidul
yang bernama Muhammad
Ilyas Bin Abdullah Suryadiningrat
yang berasal dari Pulau Pari dengan keris pusaka bernama Mahkute
Alam. Syeh Jalaludin + Said Abdul Syukur dan Pekik Nyaring Arya Sakti
menjadi saksi pertarungan tersebut.
Perampok
ulung sakti dari Besemah kalah dan melarikan diri ke hutan. Setelah
pertempuran selesai, disepakati putra tunggal Kute Lawang Kidul
sekaligus Hulu
Balang Kute Lawang Kidul – Muhammad Rasyid Patih Anom,
ikut Syeh Jalaludin ke Kute Muahe Ayek Hening. Tidak lama kemudian,
sampai juga ke Kute Lawang Kidul Raden Cili dan Rie Carang Sakti Jaka
Adipati menemui Hulu Balang Kute Lawang Kidul. (lanjutan teks ini
terputus karena sudah tidak terbaca lagi oleh penterjemah).
Kemudian
Raden Cili dan Rie Carang bersama Muhammad Rasyid menghadap Penguasa
Kute Lawang Kidul untuk pamit merantau pada orangtua Muhammad Rasyid
– Muhammad Ilyas Bin Abdullah Suryadiningrat. Sesuai kesepakatan,
tujuan pertama mereka adalah ke Kute Heban Batu yang dipimpin Raje
Pekik Nyaring Arya Sakti, meskipun melewati beberapa Kute.
Setelah
berjalan merantau, sampailah Rie Carang, Raden Cili dan Muhammad
Rasyid ke Kute Heban Batu. (lanjutan teks ini terputus karena sudah
tidak terbaca lagi oleh penterjemah)
Muhammad
Rasyid menyampaikan maksud dan tujuan mereka ke Kute Heban Batu. Rie
Carang dapat pusaka keris “Ular Belang”, Raden Cili dapat pusaka
keris “Macan Kumbang” dan Muhammad Rasyid mendapatkan “ilmu
kuasa ilmu – ilmu bertarung – ilmu kuasa besi”.
Setelah
lulus, mereka langsung pulang ke Kute Lawang Kidul, saat itu Raje
Kute Lawang Kidul – Muhammad Ilyas sedang pergi mengembara. Ada
kabar gembira bahwa mereka bertiga ....
(cerita
terputus karena bebue
kedua belum ditemukan)
Catatan :
1. Isi tulisan bersumber pada terjemahan bebue Darmo yang di terjemahkan oleh Bapak Drs. M Ansyori, sumber terjemahan dipegang Elita Wati.
2. Isi tulisan ini saya ubah kedalam bahasa Indonesia agar mudah difahami oleh semua, karena terjemahan asli masih menggunakan dialek dan kosakata bahasa Lematang Ilir.
3. Ketika ada kekeliruan, maka yang benar adalah terjemahan asli. Ketika dalam terjemahan asli ada kekeliruan, maka rujukannya adalah bebue yang asli.
4. Korelasi
informasi, dilihat di http://sejarahbenakat.blogspot.co.id/ dan
https://infokito.wordpress.com/2016/04/17/sejarah-dusun-tanjung-raman/
5. Semoga bermanfaat.
5. Semoga bermanfaat.
Minggu, 16 November 2014
Sabtu, 14 September 2013
Kamis, 05 September 2013
Sabtu, 08 Juni 2013
HASIL KOREKSI BLOG
Blog tidak ada :
1. Leni
2. Leli
3. Bikri
4. Apriani
5. Iwan
6. Eri
Blog tidak ditemukan :
7. Nelly
8. Novita
9. Yunita
10.Yusi
Blog orang lain :
11.Zuhriya (10 Agustus 2008)
Blog satu kali update bulan Mei dan Juni :
12.Rara
13.Lusy
14.Deti
15.Effy
16.Kasmi
17.Yusmita
Blog dua kali update bulan Juni, tuntas nilai UAS 2013 :
18.Riska
19.Niken
20.Fidri
21.Erlina
22.Dewi
23.Utari
24.Doni
25.Yuniarti
Blog update bulan Mei :
26.Adi
27.Rinto
28.Agus
Blog update bulan Juni :
29.Hulika
Untuk nilai yang TUNTAS, nilai OFFLINE + nilai ONLINE (45) = NILAI UAS 2013
Sisanya, siap - siap remidial, siap - siap bersibuk sibuk ria dengan tugas perorangan!
Akan di umumkan pada hari Selasa..... ^_^
1. Leni
2. Leli
3. Bikri
4. Apriani
5. Iwan
6. Eri
Blog tidak ditemukan :
7. Nelly
8. Novita
9. Yunita
10.Yusi
Blog orang lain :
11.Zuhriya (10 Agustus 2008)
Blog satu kali update bulan Mei dan Juni :
12.Rara
13.Lusy
14.Deti
15.Effy
16.Kasmi
17.Yusmita
Blog dua kali update bulan Juni, tuntas nilai UAS 2013 :
18.Riska
19.Niken
20.Fidri
21.Erlina
22.Dewi
23.Utari
24.Doni
25.Yuniarti
Blog update bulan Mei :
26.Adi
27.Rinto
28.Agus
Blog update bulan Juni :
29.Hulika
Untuk nilai yang TUNTAS, nilai OFFLINE + nilai ONLINE (45) = NILAI UAS 2013
Sisanya, siap - siap remidial, siap - siap bersibuk sibuk ria dengan tugas perorangan!
Akan di umumkan pada hari Selasa..... ^_^
Jumat, 31 Mei 2013
Kisi - kisi UAS 2013
ONLINE WEB
Dengan segala keterbatasan yang ada, X Multimedia... silahkan update blog Anda, dimulai dari tanggal 01 Juni 2013 - 08 Juni 2013 sebanyak 2 kali update untuk 2 hari yang berbeda...Usahakan untuk update sendiri, tampa bantuan teman Anda (jangan ngupah)...Update diatas, akan membantu penilaian untuk penilaian ONLINE WEB Anda..
Dengan segala keterbatasan yang ada, X Multimedia... silahkan update blog Anda, dimulai dari tanggal 01 Juni 2013 - 08 Juni 2013 sebanyak 2 kali update untuk 2 hari yang berbeda...Usahakan untuk update sendiri, tampa bantuan teman Anda (jangan ngupah)...Update diatas, akan membantu penilaian untuk penilaian ONLINE WEB Anda..
Senin, 13 Mei 2013
NILAI RAPORT MULTIMEDIA 2013
TUGAS REMIDIAL KELOMPOK
1. ADI KURNIAWAN NILAI = 39,50
2. APRIANI 42,88
3. DONI SAPUTRA 65,30
4. EFFY SATRIANI 33,62
5. ERLINA OKTAPIA 67,75
6. FIDRIANSYAH 66,20
7. HULIKA 39,50
8. KASMIANAH 39,42
9. LELI SATRIANI 37,80
10.LUSI ULANDARI 45,92
11.NELI HELNITA 35,67
12.WELLY NAZLAH UTARI 55,43
13.YUNIARTI 59,17
14.YUNITA SELDAWATI 62,08
15.YUSI AMANDA 39,75
16.ZUHRIYAH 37,80
17.DEWI SARTIKA 82,17
TUGAS REMIDIAL MANDIRI (PERORANGAN)
1. AGUS ALIANDRA NILAI = 32,30
2. BIKRI SUSANTO 29,43
3. DETI ARIANI 30,67
4. ERI FERGIAWAN 27,00
5. IWAN SANDRI 31,37
6. LENI LESTARI 32,40
7. NOVITA SARI 27,00
8. RINTO 29,33
9. YUSMITA 31,80
TUNTAS
1. NOFRI ADRIYANI NILAI = 85,85
2. PUTRI NIKEN DWIYANI 90,03
3. RARA KARIKA 89,92
4. RISKALIYA 86,33
UNTUK KETUNTASAN NILAI :
1. BUAT MAKALAH TULIS TANGAN DIKERTAS FOLIO GARIS, MINIMAL 32 LEMBAR DENGAN PENULISAN HURUF STANDAR.
2. UNTUK TUGAS PERKELOMPOK DIATAS NILAI 32,50 DAN DIBAWAH NILAI 32,50 DIBUAT PERORANGAN
3. ISI DARI MAKALAH ADALAH TENTANG HTML DAN WEB
4. SUMBER MAKALAH BEBAS.
5. WAKTU PENGERJAAN ADALAH 5 HARI DARI TANGGAL PENGUMUMAN
TUGAS REMIDIAL KELOMPOK
1. ADI KURNIAWAN NILAI = 39,50
2. APRIANI 42,88
3. DONI SAPUTRA 65,30
4. EFFY SATRIANI 33,62
5. ERLINA OKTAPIA 67,75
6. FIDRIANSYAH 66,20
7. HULIKA 39,50
8. KASMIANAH 39,42
9. LELI SATRIANI 37,80
10.LUSI ULANDARI 45,92
11.NELI HELNITA 35,67
12.WELLY NAZLAH UTARI 55,43
13.YUNIARTI 59,17
14.YUNITA SELDAWATI 62,08
15.YUSI AMANDA 39,75
16.ZUHRIYAH 37,80
17.DEWI SARTIKA 82,17
TUGAS REMIDIAL MANDIRI (PERORANGAN)
1. AGUS ALIANDRA NILAI = 32,30
2. BIKRI SUSANTO 29,43
3. DETI ARIANI 30,67
4. ERI FERGIAWAN 27,00
5. IWAN SANDRI 31,37
6. LENI LESTARI 32,40
7. NOVITA SARI 27,00
8. RINTO 29,33
9. YUSMITA 31,80
TUNTAS
1. NOFRI ADRIYANI NILAI = 85,85
2. PUTRI NIKEN DWIYANI 90,03
3. RARA KARIKA 89,92
4. RISKALIYA 86,33
UNTUK KETUNTASAN NILAI :
1. BUAT MAKALAH TULIS TANGAN DIKERTAS FOLIO GARIS, MINIMAL 32 LEMBAR DENGAN PENULISAN HURUF STANDAR.
2. UNTUK TUGAS PERKELOMPOK DIATAS NILAI 32,50 DAN DIBAWAH NILAI 32,50 DIBUAT PERORANGAN
3. ISI DARI MAKALAH ADALAH TENTANG HTML DAN WEB
4. SUMBER MAKALAH BEBAS.
5. WAKTU PENGERJAAN ADALAH 5 HARI DARI TANGGAL PENGUMUMAN
Senin, 06 Mei 2013
Ulangan Praktek KK04. Mengelolah Isi Halaman WEB
Bagian halaman ini untuk mengisi halaman Web...
Caranya :
1. Pada halaman BLOG Anda, klik menu Entri Baru
2. Muncul halaman ini, Isi Judul Entri dan ketik yang akan anda tulis.
3. Tekan tombol Publikasikan.
4. Tekan tombol Lihat Blog untuk melihat hasilnya.
Caranya :
1. Pada halaman BLOG Anda, klik menu Entri Baru
2. Muncul halaman ini, Isi Judul Entri dan ketik yang akan anda tulis.
3. Tekan tombol Publikasikan.
4. Tekan tombol Lihat Blog untuk melihat hasilnya.
Senin, 20 Februari 2012
Uji Kompetensi 2012
27 Februari 2012 / 02 Maret 2012,
Dengan adanya bidang studi kejuruan, maka muncul satu ujian yang bernama "UJI KOMPETENSI"... Tapi, satu keyakinan muncul bahwa "semua ilmu yang telah diberikan pasti bisa di implementasikan oleh anak - anak saat uji kompetensi"... Semoga semua berhasil melaksanakan semua tahapan uji kompetensi tampa halangan apapun...
Mari, ikuti dan laksanakan semua tahapan ujian selangkah demi selangkah dengan 99 persen kemampuan kita, sisanya, biarkan tangan Tuhan bekerja membantu hasil ujian kita...
Keep Smile, Your Is your think and believe Knowledge Is Power....
Dengan adanya bidang studi kejuruan, maka muncul satu ujian yang bernama "UJI KOMPETENSI"... Tapi, satu keyakinan muncul bahwa "semua ilmu yang telah diberikan pasti bisa di implementasikan oleh anak - anak saat uji kompetensi"... Semoga semua berhasil melaksanakan semua tahapan uji kompetensi tampa halangan apapun...
Mari, ikuti dan laksanakan semua tahapan ujian selangkah demi selangkah dengan 99 persen kemampuan kita, sisanya, biarkan tangan Tuhan bekerja membantu hasil ujian kita...
Keep Smile, Your Is your think and believe Knowledge Is Power....
Senin, 13 Februari 2012
Membaca Email Secara OFFLINE
https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=explorer&chrome=true&srcid=0B8aUPzuk3WocMDliOWRhOGItYWRkMS00YjdlLWIxMWItZDM1M2ViYjdkMzE5
Jumat, 05 November 2010
PEACE & LOVE
Kemajuan teknologi sangat bermanfaat bagi semua manusia yang mengenal dunia internet..Tapi, ternyata...semakin maju teknologi semakin "BODOH" manusia...Banyak yang baru mengenal dunia ini, sudah mengaku dan menonjolkan kemampuannya. Ingin dianggap sebagai "AHLI".
STUPID but it's TRUE...
Banyak pula yang "RAJIN" bicara sebagai layaknya seorang pakar, meski hanya "TAHU" (pernah melihat atau mendengar).
Inilah dunia di negeriku ini... "Ilmu Padi" , SBBB (sedikit bicara banyak bekerja) dan kata mutiara "DIAM ITU EMAS" adalah kehancuran "semu".....
Hanya satu kata.... biarlah dunia melihat dan menilai kita...
PEACE & LOVE
STUPID but it's TRUE...
Banyak pula yang "RAJIN" bicara sebagai layaknya seorang pakar, meski hanya "TAHU" (pernah melihat atau mendengar).
Inilah dunia di negeriku ini... "Ilmu Padi" , SBBB (sedikit bicara banyak bekerja) dan kata mutiara "DIAM ITU EMAS" adalah kehancuran "semu".....
Hanya satu kata.... biarlah dunia melihat dan menilai kita...
PEACE & LOVE
Rabu, 19 November 2008
Terima kasih "CALO"
Dear blogger...
Cuma pengen ngeblog, mengubah kebiasaan "kaku", hehehehehehe.....Yups, temanya ucapan terima kasih buat "CALO" di Stasiun Kereta Api Lubuk Linggau - Musi Rawas.
Hari ke 3 setelah lebaran, aku berangkat ke Sarolangun - Jambi via Kereta Api. Emang ada Kereta Api ke Jambi?Ya gak ada-laa Broo, naik Kereta cuma sampe Lubuk Linggau.
Jadwal Kereta di Muara Enim pukul 12.50, dan .....(jadi ingat syair lagunya Bang Iwan "Kereta Tiba Pukul Berapa....."). Ya, seperti biasa, karena alasan teknis, kereta tiba 2 jam lebih dari jadwal dan sempat 2 kali mengkonfirmasikan perubahan jadwal...
Selama perjalanan lumayan lancar (macet dan lambatnya), finally, jam 19.00 aku nyampe Lubuk Linggau. Turun dari Kereta, berjuang lagi menyelamatkan diri dari "CALO" angkutan kota/minibus (Sumsel : taksi) dan sebagainya.
Setelah "makan malam", aku naik taksi jurusan Sarolangun, lancar, nyampe ke tujuan jam 21.30. Selama 4 hari aku menjelajahi Kota Sarolangun yang lebih kecil dari kotaku tercinta, Muara Enim. Maklumlah Broo, Kabupaten/kota ini termasuk kota pengembangan.
Gak banyak yang bisa aku ceritakan selama disana, soalnya aku hanya kumpul dan kumpul dengan teman lama, Xotez plus teman baru, AGON, yang mengelolah tempat kursus komputer. Dari hasil "wawancara" dan analisa bodohku, aku yakin bahwa prospek untuk mencari kerja ataupun membuka lapangan kerja disana sangat cerah, sesuai disiplin ilmu-ku, Tehnik Komputer.
Finally, ending yang pengen aku ceritakan...
Pulang sore hari dari Sarolangun ke Lubuk Linggau, lancar, selama 2 jam perjalanan terasa singkat. Jam 18.00 nyampe ke Stasiun Kereta Api Lubuk Linggau. Gak mau ketinggalan tiket dan kereta, aku langsung ikut antri...
Sambil ngantri, iseng - iseng aku baca - baca spanduk besar di Stasiun yang intinya bahwa siapapun yang bisa menangkap basah seorang "CALO" akan mendapatkan hadiah sebesar Rp.1.000.000,-
Spanduk dan pesan yang sangat cerdik, sebab bisa dibaca semua orang..Akan tetapi, apakah si pembuat ide di spanduk tersebut itu berfikir :
1. Apakah memang "hukum" sudah di tegakkan dengan sempurna di Negara tercinta ini?
2. Apakah "pesan" tersebut khusus ditujukan kepada "aparat", mengingat faktanya bahwa hampir semua "CALO" adalah masyarakat lokal wilayah tersebut?
3. Apakah cukup efektif, mengingat jumlah dari "CALO" yang berjumlah puluhan dengan calon penumpang yang berniat menangkap basah "CALO" sangat sedikit?
4. Dan lain - lain pertanyaan.....
Setelah ngobrol - ngobrol dengan sesama calon penumpang dan berdiri merapatkan barisan antrian, akhirnya perjuangan 1 jam tersebut mendapatkan hasil. Loket penjualan tiket dibuka....
Senang dan bahagia tak terkira....Setelah antrian tinggal 2 orang lagi, TRALALALALALALA, loket menampilkan pengumuman "TIKET HABIS". Bayangkan, 7 menit buka langsung habis!
Dengan menyimpan keheranan dan tanda tanya besar, kutanya kepada petugas penjual tiket dan katanya "Maaf, tiket habis...yang tersisa hanya tiket cadangan di kelas Ekonomi dan kami tidak bisa menjamin akan mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket, sebab gerbong tersebut adalah gerbong tambahan".
Tidak ada jalan lain, tiket habis, harga tiket ekonomi beda tipis dengan tiket bisnis, so, "CALO" yang setia selama 1 jam menawarkan jasanya (tampa paksaan) terpaksa jadi jalan keluar. Dengan harga 30% lebih mahal dari harga resmi kubeli...karena AKU INGIN PULANG!!!
Andai ada media cetak dan media penyiaran (TV Swasta) melakukan investigasi, alangkah hebatnya jika dapat menampilkan "sisi" ini....
Terima kasih Pak P****i (disapa "PAKDE"), terima kasih "CALO", terima kasih petugas penjual tiket Kereta Api...
Cuma pengen ngeblog, mengubah kebiasaan "kaku", hehehehehehe.....Yups, temanya ucapan terima kasih buat "CALO" di Stasiun Kereta Api Lubuk Linggau - Musi Rawas.
Hari ke 3 setelah lebaran, aku berangkat ke Sarolangun - Jambi via Kereta Api. Emang ada Kereta Api ke Jambi?Ya gak ada-laa Broo, naik Kereta cuma sampe Lubuk Linggau.
Jadwal Kereta di Muara Enim pukul 12.50, dan .....(jadi ingat syair lagunya Bang Iwan "Kereta Tiba Pukul Berapa....."). Ya, seperti biasa, karena alasan teknis, kereta tiba 2 jam lebih dari jadwal dan sempat 2 kali mengkonfirmasikan perubahan jadwal...
Selama perjalanan lumayan lancar (macet dan lambatnya), finally, jam 19.00 aku nyampe Lubuk Linggau. Turun dari Kereta, berjuang lagi menyelamatkan diri dari "CALO" angkutan kota/minibus (Sumsel : taksi) dan sebagainya.
Setelah "makan malam", aku naik taksi jurusan Sarolangun, lancar, nyampe ke tujuan jam 21.30. Selama 4 hari aku menjelajahi Kota Sarolangun yang lebih kecil dari kotaku tercinta, Muara Enim. Maklumlah Broo, Kabupaten/kota ini termasuk kota pengembangan.
Gak banyak yang bisa aku ceritakan selama disana, soalnya aku hanya kumpul dan kumpul dengan teman lama, Xotez plus teman baru, AGON, yang mengelolah tempat kursus komputer. Dari hasil "wawancara" dan analisa bodohku, aku yakin bahwa prospek untuk mencari kerja ataupun membuka lapangan kerja disana sangat cerah, sesuai disiplin ilmu-ku, Tehnik Komputer.
Finally, ending yang pengen aku ceritakan...
Pulang sore hari dari Sarolangun ke Lubuk Linggau, lancar, selama 2 jam perjalanan terasa singkat. Jam 18.00 nyampe ke Stasiun Kereta Api Lubuk Linggau. Gak mau ketinggalan tiket dan kereta, aku langsung ikut antri...
Sambil ngantri, iseng - iseng aku baca - baca spanduk besar di Stasiun yang intinya bahwa siapapun yang bisa menangkap basah seorang "CALO" akan mendapatkan hadiah sebesar Rp.1.000.000,-
Spanduk dan pesan yang sangat cerdik, sebab bisa dibaca semua orang..Akan tetapi, apakah si pembuat ide di spanduk tersebut itu berfikir :
1. Apakah memang "hukum" sudah di tegakkan dengan sempurna di Negara tercinta ini?
2. Apakah "pesan" tersebut khusus ditujukan kepada "aparat", mengingat faktanya bahwa hampir semua "CALO" adalah masyarakat lokal wilayah tersebut?
3. Apakah cukup efektif, mengingat jumlah dari "CALO" yang berjumlah puluhan dengan calon penumpang yang berniat menangkap basah "CALO" sangat sedikit?
4. Dan lain - lain pertanyaan.....
Setelah ngobrol - ngobrol dengan sesama calon penumpang dan berdiri merapatkan barisan antrian, akhirnya perjuangan 1 jam tersebut mendapatkan hasil. Loket penjualan tiket dibuka....
Senang dan bahagia tak terkira....Setelah antrian tinggal 2 orang lagi, TRALALALALALALA, loket menampilkan pengumuman "TIKET HABIS". Bayangkan, 7 menit buka langsung habis!
Dengan menyimpan keheranan dan tanda tanya besar, kutanya kepada petugas penjual tiket dan katanya "Maaf, tiket habis...yang tersisa hanya tiket cadangan di kelas Ekonomi dan kami tidak bisa menjamin akan mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket, sebab gerbong tersebut adalah gerbong tambahan".
Tidak ada jalan lain, tiket habis, harga tiket ekonomi beda tipis dengan tiket bisnis, so, "CALO" yang setia selama 1 jam menawarkan jasanya (tampa paksaan) terpaksa jadi jalan keluar. Dengan harga 30% lebih mahal dari harga resmi kubeli...karena AKU INGIN PULANG!!!
Andai ada media cetak dan media penyiaran (TV Swasta) melakukan investigasi, alangkah hebatnya jika dapat menampilkan "sisi" ini....
Terima kasih Pak P****i (disapa "PAKDE"), terima kasih "CALO", terima kasih petugas penjual tiket Kereta Api...
Senin, 03 Desember 2007
SUKU GUMAI
Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Adapun penulisan suku Gumai saat ini lebih dikenal dengan sebutan/penulisan “GUMAY”. Suku Gumai bukan saja sebagai identitas diri seseorang dalam hal nama, akan tetapi juga merupakan identitas asal daerah, identitas daerah serta identitas keturunan.
Tidak semua orang yang menggunakan nama Gumai atau Gumay menetap di Gumai (dalam hal ini di Kabupaten Lahat), bisa saja orang/person yang menggunakan nama Gumai/Gumay, baik di depan ataupun dibelakang namanya adalah orang – orang yang seumur hidup tidak pernah melihat daerah Gumai/Gumay itu sendiri. Penggunaan nama yang di sandingkan didepan/dibelakang nama seseorang itu sendiri menunjukkan tepat asal, keturunan ataupun nama keluarga. Bisa salah satunya dan bisa juga ketiga – tiganya.
1. Wilayah dan Pemerintahan Adat
Wilayah :
Sebelum adanya kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang. Apa itu Marga? Yups, Marga merupakan kesatuan masyarakat hukum yang terkecil yang mempunyai system hukum adat sendiri [berdasarkan adat Gumai]. Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang merupakan satuan masyarakat hukum yang terkecil yang berdasarkan ikatan darah (genealogis territorial), sebab seluruh warganya berasal dari satu keturunan tunggal. Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat. Ini terjadi setelah adanya Undang – Undang no. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Berdasarkan UU no. 5 Tahun 1979 ini, dusun – dusun yang berada dibawah Marga, sekarang menjadi desa – desa yang berdiri sendiri yang pemerintahannya langsung dibawah Camat
Pemerintahan Adat :
Pemerintahan di Gumai adalah Pemerintahan Adat, artinya bahwa pemerintahan diselenggarakan berdasarkan adat Gumai. Pemerintahan adat ini membidangi masalah semua usaha kesehatan dan kesejahteraan rakyat serta ketertiban dan keamanan umum lahir dan batin.
Susunan Pemerintahan Adat Gumai adalah :
1. Jurai Kebali’an
Tugas utama dari Jurai Kebali’an adalah pewaris dan penerus silsilah Gumai menurut garis hukum kebapakan (Patrilinier). Jurai kebali’an merupakan kepala suku (kepala pemerintahan) masyarakat Gumai yang mendengar, menerima dan memperhatikan keluh kesah dan permohonan rakyat yang datang menghadap padanya serta memanjatkan do’a selamat , murah rezeki, kesehatan dan kesejahteraan kepada UKHANG KELAM (sebutan adapt untuk Allah SWT atau Yang Maha Ghaib) dalam satu upacara adat.
Selain itu tugas dari Jurai Kebali’an adalah mendengar laporan – laporan dari Jurai Tue mengenai perkembangan kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya maupun kesulitan kehidupan rakyatnya. Jurai Kebali’an juga mendengarkan dan memperhatikan perselisihan ataupun sengketa antara rakyatnya dalam semua hal dan mendamaikan perselisihan dengan jalan memberikan keadilan berdasarkan kebijaksanaan, kearifan dan pandangan kerohaniannya.
Inti dari tugas dan fungsi Jurai Kebali’an adalah merupakan tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat memutuskan serta tempat kembali kedusun (keasal keturunan).
Pandangan kerohanian inilah yang menjadi ciri khas dan yang membedakan tugas dari Jurai Kebali’an dengan Jurai Tue dan Mimbar.
Penyebutan Jurai Kebali’an di jelaskan dalam salah satu buku adalah :
Diasumsikan bila seseorang A (orang pertama) berbicara kepada B (orang kedua), sedangkan pewaris dan penerus silsilah Gumai merupakan C (orang ketiga). Maka penyebutan Puyang dari tadi kepada C memakai sebutan Jurai Kebali’an untuk pewaris silsilah tersebut.
Puyang adalah sebutan umum untuk orang diatas kakek.
Diatas saya ada orangtua/bapak, dan diatas Bapak ada Kakek/Nenek dan diatas Kakek/Nenek ada Puyang. Akan tetapi didalam masyarakat Gumai tidak dikenal sebutan Kakek. Yang ada adalah sebutan Nenek, untuk laki – laki adalah Nenek Lanang dan untuk perempuan adalah Nenek Betine.
Penyebutan dan penulisan nama asli dan juluk Jurai Kebali’an oleh orang – orang yang bukan Jurai Kebali’an sampai sekarang merupakan larangan keras menurut titipan dan wasiat turun temurun. Nama asli dari masing Jurai Kebali’an satu persatu hanyalah Jurai Kebali’an yang tahu dan berhak menyebutnya. Sedangkan gelar atau juluk yang juga sama saja, larangan keras, meski sampai sekarang sudah banyak yang diketahui orang – orang tertentu secara tidak resmi.
Setiap Jurai kebali’an mempunyai riwayat sendiri – sendiri yang mencerminkan kelebihan dan kesitimewaan masing – masing Jurai Kebali’an. Setiap penerus garis keturunan Jurai Kebali’an adalah dari garis silsilah keturunan istri pertama Jurai Kebali’an.
2. Jurai Tue
Jurai Tue adalah kepala Dusun. Tugasnya adalah mengurus seluruh kepentingan rakyat dusunnya serta menyelesaikan persengketaan kecil – kecil diantara rakyatnya. Bila suatu permasalah tidak terselesaikan atau tidak ada jalan keluarnya, maka permasalah tersebut akan disampaikan kepada Jurai Kebali’an.
Tiap dusun ada Jurai Tue-nya sendiri – sendiri. Contoh dari tugas Jurai Tue adalah mengurusi masalah bercocok tanam, mencari hutan baru untuk berladang, mengurusi kematian, kelahiran, perkawinan, kesehatan, perumahan dan lain – lain.
3. Mimbar
Mimbar adalah suatu kedudukan dan martabat yang paling rapat secara pribadi lahir dan batin pada kedudukan dan martabat Jurai Kebali’an. Mimbar bertugas serbaguna tergantung kondisi atau kepentingan. Mimbar dapat bertugas sebagai sebagai pengawal pribadi Jurai Kebali’an, dapat bertugas sebagai kurir (utusan) dan dapat pula bertugas sebagai sekretaris pribadi. Inti dari tugas Mimbar adalah meliputi segala hal menyangkut penjagaan keamanan dan mengurus keperluan Jurai Kebali’an. Pada seluruh wilayah Gumai hanya ada 8 Mimbar. Mimbar bergerak/bertugas hanya atas perintah (ataupun segala inisiatif/kehendak hatinya mendapat restu) dari Jurai Kebali’an. Tampa restu hasil yang didapat/terjadi hanyakebinasaan dan kena’asan yang akan ditemui yang disebut TALU
Baik Jurai kebali’an, Jurai Tue dan Mimbar, penentuan jabatannya tidak berdasarkan pemilihan, melainkan berdasarkan adat tradisi. Kedudukan Jurai Tue ditentukan berdasarkan peneropongan rohani. Dan kedudukan Mimbar diperoleh berdasarkan pilihan atau “AMBI’AN”. Sekali dijabat/dipegang oleh satu orang maka kedudukan itu akan diturunkan untuk diteruskan kepada anak laki – laki yang tertua atau yang dituakan yang ditunjuk serta di tetapkan secara adat dari keturunan Jurai Tue dan Mimbar tersebut.
Dahulu seluruh anggota masyarakat suku Gumai berhimpun hidup dalam satu masyarakat hukum yang disebut Marga. Didalam pemerintahan terdapat dua kepala pemerintahan yagn hidup berdampingan, yaitu Kepala Suku atau Jurai Kebali’an atau Imam dan Kepala Marga atau Depati atau Pasirah.
Begitu pula di Dusun, dalam suatu dusun, Jurai Tue sebagai Tua Dusun dan Kerie sebagai Kepala Dusun. Perbedaan pokok dari Jurai Kebali’an dan Kepala Marga adalah bahwa Jurai kebali’an tetap menguasai seluruh suku dan tidak terpengaruh oleh wilayah pemerintahan. Sedangkan Kepala Marga hanya menguasai Marga-nya saja, untuk masing – masing Marga terdapat Kepala Marga-nya sendiri – sendiri.
Perbedaan lainnya antara Kepala marga dan Kepala Dusun dengan Kelapa Suku (Jurai kebali’an) dan Tua Dusun (Jurai Tue) adalah bahwa Kepala Marga dan Kepala Dusun dipilih berdasarkan pemilihan.
Walaupun terpisah, dalam pemerintahan Marga, akan tetapi pemisahan ini bersifat horizontal dan Kepala marga masih tetap tunduk dibawah Kepala Suku.
2. Etnik, Bahasa dan Kebudayaan
Etnik :
Gumai merupakan satu dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, yaitu suku Gumai. Suku Gumai serumpun dengan suku Besemah dan suku Semidang.
Bahasa :
Bahasa Gumai dikenal dan disebut sebagai Bahasa Lematang. Aksara yang dipakai adalah aksara KE-GE-NGE (huruf rincung) atau yang dikenal umum sebagai surat ulu.
Kebudayaan :
Kebudayaan Gumai tercermin pada tari – tarian, nyanyian dan sastra lisan (guritan dan pantun bersahut) serta pencak silat.
Alat musik yang dikenal adalah ginggung, serdam, rebab, kenung, gong dan sebagainya
Kehidupan :
Kehidupan masyarakat Gumai bersifat gotong royong dalam usaha – usaha pertanian dan usaha – usaha kemasyarakatan lainnya dan termasuk dalam pola kehidupan suku berpindah dizamannya.
Mata Pencarian :
Mata Pencarian masyarakat Gumai dizaman dahulu masih sangat tradisional yang meliputi perladangan darat dan persawahan serta berburu.
Adat :
Adat Meminang Gadis
Adat Menegakkan harta Pusaka
Agama :
Dari asal muasal sampai dengan keturunan sekarang adalah ISLAM.
3. Sejarah dan Mithologi
Sejarah Gumai tidak bisa dipisahkan dari mythology bahkan boleh dikatakan sejarah Gumai merupakan perkembangan dari suatu mythos. Sejarah Gumai berawal dari Diwe Gumai yang merupakan cikal bakal suku Gumai yang membentuk silsilah keturunan tak terputus. Suatu silsilah berdasarkan hukum kebapakan (Patrilinier)
4. Upacara Ritual (spesifik)
Upacara ritual yang spesifik ini berupa penyelenggaraan adat sedekah malam malam empat belas. Adat ini dilakukan secara tetap tiap bulan yaitu setiap tanggal 14 menurut perhitungan peredaran bulan.
Upacara adat malam 14 ini diselenggarakan dengan sesajen tradisional yang terdiri dari Bubur Malam 14,Bubur Biasa, Apam, Lemang, Punjung Telur, Daun Sirih, Daun Gambir, Kapur Sirih, Ayam Putih Kuning, Ayam Putih Pucat dan cangkir – cangkir berisi air jernih.
Adat sedekah malam empat belas menunjukkan suatu komunikasi tetap, teratur dan tradisional antara Jurai Kebali’an yang sedang memegang pimpinan Gumai dengan ZAT YANG MAHA TINGGI. Komunikasi ini tradisional sifatnya, sesuai dengan petunjuk dan wasiat dari Jurai Kebali’an yang dulu – dulu secara turun temurun, dan karena hal inilah terjadinya adat.
KESULITAN :
Kesulitan yang dihadapi oleh suku Gumai adalah :
1. Keterangan Waktu (When)
Mengenai keterangan waktu adalah point penting yang masih bisa dan harus digali oleh semua keturunan Gumai dan oleh para ahli sejarah serta peneliti yang berminat pada Sejarah Gumai.
2. Keterangan Peristiwa (What)
Mengenai sebuah keterangan berita pada masa kemerdekaan/ masa penjajahan Belanda masih dapat ditemukan pelaku sejarah, meskipun sangat sulit. Akan tetapi jika akan mencari keterangan peristiwa yang semakin naik keatas secara vertical dalam garis keturunan Gumai. Akan dijumpai bermacam versi keterangan antara keterangan/data yang satu dengan keterangan/data yang lainnya terkadang saling bertentangan. Dan masih pula harus memisahkan apakah sumber keterangan/data ini termasuk sumber pelaku peristiwa ataukah hanya pendengar peristiwa. Yang kadang membingungkan dan banyak terjadi di masyarakat Indonesia adalah seorang pendengar disuatu saat dapat naik tingkatan menjadi pelaku dari suatu peristiwa dengan berbagai macam motivasi/ tujuan yang berbeda pula, misalnya untuk menunjukkan bahwa si pencerita itu pintar atau untuk membesarkan ranting keturunan mereka dan sebagainya.
Terkadang pula dalam melakukan suatu penelitian sejarah Gumai harus juga bisa memisahkan antara sejarah,mythos/legenda dan kabar angin (omong kosong yang dibesar – besarkan) .
3. Keterangan Tempat (Where)
Keterangan Tempat masih sedikit bisa diyakini adanya sampai pada batas – batas tertentu. Ada banyak tempat yang dapat di selidiki/ diteliti oleh para peneliti dan ahli sejarah yang berminat, misalnya artefak dan peninggalan sejarah lainnya
4. Keterangan Pelaku (Who)
Sama seperti keterangan pelaku, sangat sulit dibuktikan dengan standar ilmu sejarah. Jika hanya untuk penulisan, sangat banyak versi yang harus kita saring!
5. Keterangan Sebab Akibat (Why)
6. Keterangan Kronologis suatu peristiwa (How)
7. Tradisi Adat Yang Masih Terjaga
Dalam hal ini, salah satunya adalah Penyebutan Nama Asli dari Tokoh inti suku Gumai,Jurai Kebali’an, yang masih tetap dijaga karena merupakan LARANGAN KERAS
Setelah semua kesulitan dari suku Gumai/Gumay itu sendiri dapat diatasi, maka akan lengkaplah suatu sejarah dari suku Gumai. Pedoman Penyelidikan/penelitian yang berpedoman pada 5W1H (When,where, what, who, why, dan How) ini, menurut guru spiritualku, Mr. Sherlock Holmes, adalah sesuatu yang merupakan tali temali dari benang kusut yang dapat membantu simpul –simpul kelabu dalam mengungkap suatu sejarah. Atau seperti guru spiritualku yang kedua, Miss. Marpel, adalah dengan memahami karakteristik suatu daerah atau seseorang, terkadang kita dapat menemukan jawabannya ataupun mendapatkan hasil dari sesuatu yang terduga.
Jika dalam hal masa zaman penjajahan, adalah sangat dekat masanya dan masih dapat dilacak data/fakta yang masih dapat dipertnggungjawabkan secara ilmiah atau secara keilmuan. Caranya bisa dengan melakukan observasi ke daerahnya langsung, bisa juga dengan mengunjungi perpustakaan Belanda yang terkenal lengkap dan bisa juga dengan mencari/membaca buku yang banyak ditulis oleh orang – orang yang termasuk dari garis keturunan suku Gumai yang perduli terhadap Gumai. Atau bisa juga dengan membaca kisah perjuangan suku lainnya yang berdekatan dengan Suku Gumai/Gumay, misal Suku Besemah/Pasemah, Suku Semidang, Suku Lintang, Suku Semendo dan suku lainnya.
Akan tetapi, bagaimana jika kita akan melacak garis sejarah vertical sampai ke asal muasal (dalam hal ini Diwe Gumai)?
Dalam salah satu buku yang saya baca, ada 2 cara yang dapat dipakai :
1. Dengan perhitungan per 25 tahun setiap generasi (perhitungan umum)
Jika cara ini dipakai, maka akan sampailah kita pada zaman keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Terutama dengan didasarkan mythos asal muasal keturunan Suku Gumai yang pertamakali berawal dari Bukit Siguntang. Apakah Diwe Gumai pada khususnya dan masyarakat Gumai pada umumnya ada hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya? Dalam mythos suku Gumai tidak pernah ada cerita yang menghubung – hubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya.
Menurut buku yang saya baca, jika dihitung per 25 tahun suatu masa kepemimpinan dari Jurai Kebali’an maka akan didapat tahun Jurai kebali’an pertama adalah ± 650 tahun yang lalu. Ada apa di tahun – tahun tersebut? Ketika aku meminta bantuan Om Google dan Mbak Wiki, aku dapatkan dari beberapa situs yang menyatakan bahwa tahun 1290 – 1377 merupakan tahun Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya.
Akan tetapi, menurut Miss Marpel, mungkin saja itu terjadi dan benar adanya mengingat Bukit Siguntang adalah tempat sakral pada zamannya dan masa kemunculan Diwe Gumai yang bertepatan dengan masa – masa keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Ditambah lagi perjalanan dari Diwe Gumay, jika di dengar dari mythos yang ada adalah selalu bergerak ke hulu atau dengan kata lain menjauhi peradaban. Mr. Sherlock Holmes sendiri membantah komentar Miss Murpel, sebab katanya, semua itu haruslah memenuhi prinsip dasar H5S1 yang biasanya beliau terapkan. Tertarik ?
2. Dengan perbandingan zaman dengan bagian - bagian sejarah Indonesia
Cerita pertamanya dari asal muasal suku Gumay adalah dari bukit Siguntang.
Ada pula mythos yang menyebutkan kunjungan dan cenrdamata dari kerajaan Majapahit salah satu Jurai Kebali’an terhadap Kerajaan Majapahit. Penggalian keabsahan cerita/dongeng/mythos tentang hubungan dengan Majapahit ini dinyatakan mendapat oleh – oleh/kenangan dari Raja Majapahit berupa benda – benda yang disakralkan yang belum pernah di teliti oleh peneliti manapun. Ada juga cerita tentang penyebutan tempat lain, Lampung. Tertarik?
Referensi Data :
Sampai dengan saat ini, baru ada 2 karya tulis tentang Sejarah Gumai/Gumay yang saya miliki sebagai sumber pengetahuan. Akan tetapi diantara kedua buku itu sangat memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Satu buku berjudul Gumai Perang Melawan Belanda karya Rustam Effendi dari Gumai Talang dan buku berjudul Tenggapan Terhadap Tulisan Berjudul Gumay Perang Melawan Belanda karya Satria U.S Gumay.SH dari Gumai Lembak. Dua buku yang saya sebutkan diatas tidak diperdagangkan, sebab hanyalah buku panduan/pedoman bagi keturunan suku Gumai secara global.
Kedua buku ini, meskipun menceritakan sejarah suku Gumai, akan tetapi memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam hal motivasi penulisan. Hal ini dapat dilihat pada kata pengantar yang dibuat oleh masing – masing penulis.
Buku yang pertama, seperti diakui penulisnya, kaya akan kisah tetapi miskin bukti sejarah (dalam hal ini, bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah). Sedangkan buku yang kedua menyatakan bahwa suku Gumai tidak miskin bukti sejarah serta membantah hampir 50% isi buku pertama dengan menampilkan sesuatu yang berbeda dan mengedepankan wilayah/marga tertentu dan menolak marga lainnya.
Dua buku yang sama – sama menceritakan satu pokok pembahasan yang sama dengan versi yang brbeda, menarik untuk dikaji, dan dijadikan referensi awal (commentar :setidaknya dapat memahami pola pikir dari dari kedua penulis buku ini).
Buku Gumai Perang Melawan Belanda menyajikan seputar kehidupan masyarakat suku Gumai dan mempunyai misi utama untuk mengangkat sejarah tokoh perjuangan dari suku Gumai menjadi tokoh perjuangan Nasional. (commentar : seperti menegakkan benang basah!).
Sedangkan buku Tanggapan Terhadap Tulisan Berjudul Gumai Perang Melawan Belanda menyajikan bantahan seputar tokoh perjuangan dan versi cerita yang berbeda mengenai sejarah awal tentang asal mula kehidupan muasal Gumai, dalam hal ini Diwe Gumai. (commentar :Serta banyak cerita omong kosong lainnya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan).
Saya juga pernah mendengar bahwa dari Jepang pernah ada seorang yang mengadakan penelitian untuk tesis Sejarah dan Budaya tentang Gumai. Hanya yang saya ketahui, peneliti ini tidak dalam hal meneliti tahun – tahun peninggalan sejarah dan lainnya secara spesifik.
Kalau dari Indonesia sendiri, BELUM ADA SATUPUN.
Ini adalah rintisan awal ke dunia digital
Kritik, saran, dan makian postingkan di blog ini...
Wassalam,
Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Adapun penulisan suku Gumai saat ini lebih dikenal dengan sebutan/penulisan “GUMAY”. Suku Gumai bukan saja sebagai identitas diri seseorang dalam hal nama, akan tetapi juga merupakan identitas asal daerah, identitas daerah serta identitas keturunan.
Tidak semua orang yang menggunakan nama Gumai atau Gumay menetap di Gumai (dalam hal ini di Kabupaten Lahat), bisa saja orang/person yang menggunakan nama Gumai/Gumay, baik di depan ataupun dibelakang namanya adalah orang – orang yang seumur hidup tidak pernah melihat daerah Gumai/Gumay itu sendiri. Penggunaan nama yang di sandingkan didepan/dibelakang nama seseorang itu sendiri menunjukkan tepat asal, keturunan ataupun nama keluarga. Bisa salah satunya dan bisa juga ketiga – tiganya.
1. Wilayah dan Pemerintahan Adat
Wilayah :
Sebelum adanya kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang. Apa itu Marga? Yups, Marga merupakan kesatuan masyarakat hukum yang terkecil yang mempunyai system hukum adat sendiri [berdasarkan adat Gumai]. Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang merupakan satuan masyarakat hukum yang terkecil yang berdasarkan ikatan darah (genealogis territorial), sebab seluruh warganya berasal dari satu keturunan tunggal. Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat. Ini terjadi setelah adanya Undang – Undang no. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Berdasarkan UU no. 5 Tahun 1979 ini, dusun – dusun yang berada dibawah Marga, sekarang menjadi desa – desa yang berdiri sendiri yang pemerintahannya langsung dibawah Camat
Pemerintahan Adat :
Pemerintahan di Gumai adalah Pemerintahan Adat, artinya bahwa pemerintahan diselenggarakan berdasarkan adat Gumai. Pemerintahan adat ini membidangi masalah semua usaha kesehatan dan kesejahteraan rakyat serta ketertiban dan keamanan umum lahir dan batin.
Susunan Pemerintahan Adat Gumai adalah :
1. Jurai Kebali’an
Tugas utama dari Jurai Kebali’an adalah pewaris dan penerus silsilah Gumai menurut garis hukum kebapakan (Patrilinier). Jurai kebali’an merupakan kepala suku (kepala pemerintahan) masyarakat Gumai yang mendengar, menerima dan memperhatikan keluh kesah dan permohonan rakyat yang datang menghadap padanya serta memanjatkan do’a selamat , murah rezeki, kesehatan dan kesejahteraan kepada UKHANG KELAM (sebutan adapt untuk Allah SWT atau Yang Maha Ghaib) dalam satu upacara adat.
Selain itu tugas dari Jurai Kebali’an adalah mendengar laporan – laporan dari Jurai Tue mengenai perkembangan kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya maupun kesulitan kehidupan rakyatnya. Jurai Kebali’an juga mendengarkan dan memperhatikan perselisihan ataupun sengketa antara rakyatnya dalam semua hal dan mendamaikan perselisihan dengan jalan memberikan keadilan berdasarkan kebijaksanaan, kearifan dan pandangan kerohaniannya.
Inti dari tugas dan fungsi Jurai Kebali’an adalah merupakan tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat memutuskan serta tempat kembali kedusun (keasal keturunan).
Pandangan kerohanian inilah yang menjadi ciri khas dan yang membedakan tugas dari Jurai Kebali’an dengan Jurai Tue dan Mimbar.
Penyebutan Jurai Kebali’an di jelaskan dalam salah satu buku adalah :
Diasumsikan bila seseorang A (orang pertama) berbicara kepada B (orang kedua), sedangkan pewaris dan penerus silsilah Gumai merupakan C (orang ketiga). Maka penyebutan Puyang dari tadi kepada C memakai sebutan Jurai Kebali’an untuk pewaris silsilah tersebut.
Puyang adalah sebutan umum untuk orang diatas kakek.
Diatas saya ada orangtua/bapak, dan diatas Bapak ada Kakek/Nenek dan diatas Kakek/Nenek ada Puyang. Akan tetapi didalam masyarakat Gumai tidak dikenal sebutan Kakek. Yang ada adalah sebutan Nenek, untuk laki – laki adalah Nenek Lanang dan untuk perempuan adalah Nenek Betine.
Penyebutan dan penulisan nama asli dan juluk Jurai Kebali’an oleh orang – orang yang bukan Jurai Kebali’an sampai sekarang merupakan larangan keras menurut titipan dan wasiat turun temurun. Nama asli dari masing Jurai Kebali’an satu persatu hanyalah Jurai Kebali’an yang tahu dan berhak menyebutnya. Sedangkan gelar atau juluk yang juga sama saja, larangan keras, meski sampai sekarang sudah banyak yang diketahui orang – orang tertentu secara tidak resmi.
Setiap Jurai kebali’an mempunyai riwayat sendiri – sendiri yang mencerminkan kelebihan dan kesitimewaan masing – masing Jurai Kebali’an. Setiap penerus garis keturunan Jurai Kebali’an adalah dari garis silsilah keturunan istri pertama Jurai Kebali’an.
2. Jurai Tue
Jurai Tue adalah kepala Dusun. Tugasnya adalah mengurus seluruh kepentingan rakyat dusunnya serta menyelesaikan persengketaan kecil – kecil diantara rakyatnya. Bila suatu permasalah tidak terselesaikan atau tidak ada jalan keluarnya, maka permasalah tersebut akan disampaikan kepada Jurai Kebali’an.
Tiap dusun ada Jurai Tue-nya sendiri – sendiri. Contoh dari tugas Jurai Tue adalah mengurusi masalah bercocok tanam, mencari hutan baru untuk berladang, mengurusi kematian, kelahiran, perkawinan, kesehatan, perumahan dan lain – lain.
3. Mimbar
Mimbar adalah suatu kedudukan dan martabat yang paling rapat secara pribadi lahir dan batin pada kedudukan dan martabat Jurai Kebali’an. Mimbar bertugas serbaguna tergantung kondisi atau kepentingan. Mimbar dapat bertugas sebagai sebagai pengawal pribadi Jurai Kebali’an, dapat bertugas sebagai kurir (utusan) dan dapat pula bertugas sebagai sekretaris pribadi. Inti dari tugas Mimbar adalah meliputi segala hal menyangkut penjagaan keamanan dan mengurus keperluan Jurai Kebali’an. Pada seluruh wilayah Gumai hanya ada 8 Mimbar. Mimbar bergerak/bertugas hanya atas perintah (ataupun segala inisiatif/kehendak hatinya mendapat restu) dari Jurai Kebali’an. Tampa restu hasil yang didapat/terjadi hanyakebinasaan dan kena’asan yang akan ditemui yang disebut TALU
Baik Jurai kebali’an, Jurai Tue dan Mimbar, penentuan jabatannya tidak berdasarkan pemilihan, melainkan berdasarkan adat tradisi. Kedudukan Jurai Tue ditentukan berdasarkan peneropongan rohani. Dan kedudukan Mimbar diperoleh berdasarkan pilihan atau “AMBI’AN”. Sekali dijabat/dipegang oleh satu orang maka kedudukan itu akan diturunkan untuk diteruskan kepada anak laki – laki yang tertua atau yang dituakan yang ditunjuk serta di tetapkan secara adat dari keturunan Jurai Tue dan Mimbar tersebut.
Dahulu seluruh anggota masyarakat suku Gumai berhimpun hidup dalam satu masyarakat hukum yang disebut Marga. Didalam pemerintahan terdapat dua kepala pemerintahan yagn hidup berdampingan, yaitu Kepala Suku atau Jurai Kebali’an atau Imam dan Kepala Marga atau Depati atau Pasirah.
Begitu pula di Dusun, dalam suatu dusun, Jurai Tue sebagai Tua Dusun dan Kerie sebagai Kepala Dusun. Perbedaan pokok dari Jurai Kebali’an dan Kepala Marga adalah bahwa Jurai kebali’an tetap menguasai seluruh suku dan tidak terpengaruh oleh wilayah pemerintahan. Sedangkan Kepala Marga hanya menguasai Marga-nya saja, untuk masing – masing Marga terdapat Kepala Marga-nya sendiri – sendiri.
Perbedaan lainnya antara Kepala marga dan Kepala Dusun dengan Kelapa Suku (Jurai kebali’an) dan Tua Dusun (Jurai Tue) adalah bahwa Kepala Marga dan Kepala Dusun dipilih berdasarkan pemilihan.
Walaupun terpisah, dalam pemerintahan Marga, akan tetapi pemisahan ini bersifat horizontal dan Kepala marga masih tetap tunduk dibawah Kepala Suku.
2. Etnik, Bahasa dan Kebudayaan
Etnik :
Gumai merupakan satu dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, yaitu suku Gumai. Suku Gumai serumpun dengan suku Besemah dan suku Semidang.
Bahasa :
Bahasa Gumai dikenal dan disebut sebagai Bahasa Lematang. Aksara yang dipakai adalah aksara KE-GE-NGE (huruf rincung) atau yang dikenal umum sebagai surat ulu.
Kebudayaan :
Kebudayaan Gumai tercermin pada tari – tarian, nyanyian dan sastra lisan (guritan dan pantun bersahut) serta pencak silat.
Alat musik yang dikenal adalah ginggung, serdam, rebab, kenung, gong dan sebagainya
Kehidupan :
Kehidupan masyarakat Gumai bersifat gotong royong dalam usaha – usaha pertanian dan usaha – usaha kemasyarakatan lainnya dan termasuk dalam pola kehidupan suku berpindah dizamannya.
Mata Pencarian :
Mata Pencarian masyarakat Gumai dizaman dahulu masih sangat tradisional yang meliputi perladangan darat dan persawahan serta berburu.
Adat :
Adat Meminang Gadis
Adat Menegakkan harta Pusaka
Agama :
Dari asal muasal sampai dengan keturunan sekarang adalah ISLAM.
3. Sejarah dan Mithologi
Sejarah Gumai tidak bisa dipisahkan dari mythology bahkan boleh dikatakan sejarah Gumai merupakan perkembangan dari suatu mythos. Sejarah Gumai berawal dari Diwe Gumai yang merupakan cikal bakal suku Gumai yang membentuk silsilah keturunan tak terputus. Suatu silsilah berdasarkan hukum kebapakan (Patrilinier)
4. Upacara Ritual (spesifik)
Upacara ritual yang spesifik ini berupa penyelenggaraan adat sedekah malam malam empat belas. Adat ini dilakukan secara tetap tiap bulan yaitu setiap tanggal 14 menurut perhitungan peredaran bulan.
Upacara adat malam 14 ini diselenggarakan dengan sesajen tradisional yang terdiri dari Bubur Malam 14,Bubur Biasa, Apam, Lemang, Punjung Telur, Daun Sirih, Daun Gambir, Kapur Sirih, Ayam Putih Kuning, Ayam Putih Pucat dan cangkir – cangkir berisi air jernih.
Adat sedekah malam empat belas menunjukkan suatu komunikasi tetap, teratur dan tradisional antara Jurai Kebali’an yang sedang memegang pimpinan Gumai dengan ZAT YANG MAHA TINGGI. Komunikasi ini tradisional sifatnya, sesuai dengan petunjuk dan wasiat dari Jurai Kebali’an yang dulu – dulu secara turun temurun, dan karena hal inilah terjadinya adat.
KESULITAN :
Kesulitan yang dihadapi oleh suku Gumai adalah :
1. Keterangan Waktu (When)
Mengenai keterangan waktu adalah point penting yang masih bisa dan harus digali oleh semua keturunan Gumai dan oleh para ahli sejarah serta peneliti yang berminat pada Sejarah Gumai.
2. Keterangan Peristiwa (What)
Mengenai sebuah keterangan berita pada masa kemerdekaan/ masa penjajahan Belanda masih dapat ditemukan pelaku sejarah, meskipun sangat sulit. Akan tetapi jika akan mencari keterangan peristiwa yang semakin naik keatas secara vertical dalam garis keturunan Gumai. Akan dijumpai bermacam versi keterangan antara keterangan/data yang satu dengan keterangan/data yang lainnya terkadang saling bertentangan. Dan masih pula harus memisahkan apakah sumber keterangan/data ini termasuk sumber pelaku peristiwa ataukah hanya pendengar peristiwa. Yang kadang membingungkan dan banyak terjadi di masyarakat Indonesia adalah seorang pendengar disuatu saat dapat naik tingkatan menjadi pelaku dari suatu peristiwa dengan berbagai macam motivasi/ tujuan yang berbeda pula, misalnya untuk menunjukkan bahwa si pencerita itu pintar atau untuk membesarkan ranting keturunan mereka dan sebagainya.
Terkadang pula dalam melakukan suatu penelitian sejarah Gumai harus juga bisa memisahkan antara sejarah,mythos/legenda dan kabar angin (omong kosong yang dibesar – besarkan) .
3. Keterangan Tempat (Where)
Keterangan Tempat masih sedikit bisa diyakini adanya sampai pada batas – batas tertentu. Ada banyak tempat yang dapat di selidiki/ diteliti oleh para peneliti dan ahli sejarah yang berminat, misalnya artefak dan peninggalan sejarah lainnya
4. Keterangan Pelaku (Who)
Sama seperti keterangan pelaku, sangat sulit dibuktikan dengan standar ilmu sejarah. Jika hanya untuk penulisan, sangat banyak versi yang harus kita saring!
5. Keterangan Sebab Akibat (Why)
6. Keterangan Kronologis suatu peristiwa (How)
7. Tradisi Adat Yang Masih Terjaga
Dalam hal ini, salah satunya adalah Penyebutan Nama Asli dari Tokoh inti suku Gumai,Jurai Kebali’an, yang masih tetap dijaga karena merupakan LARANGAN KERAS
Setelah semua kesulitan dari suku Gumai/Gumay itu sendiri dapat diatasi, maka akan lengkaplah suatu sejarah dari suku Gumai. Pedoman Penyelidikan/penelitian yang berpedoman pada 5W1H (When,where, what, who, why, dan How) ini, menurut guru spiritualku, Mr. Sherlock Holmes, adalah sesuatu yang merupakan tali temali dari benang kusut yang dapat membantu simpul –simpul kelabu dalam mengungkap suatu sejarah. Atau seperti guru spiritualku yang kedua, Miss. Marpel, adalah dengan memahami karakteristik suatu daerah atau seseorang, terkadang kita dapat menemukan jawabannya ataupun mendapatkan hasil dari sesuatu yang terduga.
Jika dalam hal masa zaman penjajahan, adalah sangat dekat masanya dan masih dapat dilacak data/fakta yang masih dapat dipertnggungjawabkan secara ilmiah atau secara keilmuan. Caranya bisa dengan melakukan observasi ke daerahnya langsung, bisa juga dengan mengunjungi perpustakaan Belanda yang terkenal lengkap dan bisa juga dengan mencari/membaca buku yang banyak ditulis oleh orang – orang yang termasuk dari garis keturunan suku Gumai yang perduli terhadap Gumai. Atau bisa juga dengan membaca kisah perjuangan suku lainnya yang berdekatan dengan Suku Gumai/Gumay, misal Suku Besemah/Pasemah, Suku Semidang, Suku Lintang, Suku Semendo dan suku lainnya.
Akan tetapi, bagaimana jika kita akan melacak garis sejarah vertical sampai ke asal muasal (dalam hal ini Diwe Gumai)?
Dalam salah satu buku yang saya baca, ada 2 cara yang dapat dipakai :
1. Dengan perhitungan per 25 tahun setiap generasi (perhitungan umum)
Jika cara ini dipakai, maka akan sampailah kita pada zaman keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Terutama dengan didasarkan mythos asal muasal keturunan Suku Gumai yang pertamakali berawal dari Bukit Siguntang. Apakah Diwe Gumai pada khususnya dan masyarakat Gumai pada umumnya ada hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya? Dalam mythos suku Gumai tidak pernah ada cerita yang menghubung – hubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya.
Menurut buku yang saya baca, jika dihitung per 25 tahun suatu masa kepemimpinan dari Jurai Kebali’an maka akan didapat tahun Jurai kebali’an pertama adalah ± 650 tahun yang lalu. Ada apa di tahun – tahun tersebut? Ketika aku meminta bantuan Om Google dan Mbak Wiki, aku dapatkan dari beberapa situs yang menyatakan bahwa tahun 1290 – 1377 merupakan tahun Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya.
Akan tetapi, menurut Miss Marpel, mungkin saja itu terjadi dan benar adanya mengingat Bukit Siguntang adalah tempat sakral pada zamannya dan masa kemunculan Diwe Gumai yang bertepatan dengan masa – masa keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Ditambah lagi perjalanan dari Diwe Gumay, jika di dengar dari mythos yang ada adalah selalu bergerak ke hulu atau dengan kata lain menjauhi peradaban. Mr. Sherlock Holmes sendiri membantah komentar Miss Murpel, sebab katanya, semua itu haruslah memenuhi prinsip dasar H5S1 yang biasanya beliau terapkan. Tertarik ?
2. Dengan perbandingan zaman dengan bagian - bagian sejarah Indonesia
Cerita pertamanya dari asal muasal suku Gumay adalah dari bukit Siguntang.
Ada pula mythos yang menyebutkan kunjungan dan cenrdamata dari kerajaan Majapahit salah satu Jurai Kebali’an terhadap Kerajaan Majapahit. Penggalian keabsahan cerita/dongeng/mythos tentang hubungan dengan Majapahit ini dinyatakan mendapat oleh – oleh/kenangan dari Raja Majapahit berupa benda – benda yang disakralkan yang belum pernah di teliti oleh peneliti manapun. Ada juga cerita tentang penyebutan tempat lain, Lampung. Tertarik?
Referensi Data :
Sampai dengan saat ini, baru ada 2 karya tulis tentang Sejarah Gumai/Gumay yang saya miliki sebagai sumber pengetahuan. Akan tetapi diantara kedua buku itu sangat memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Satu buku berjudul Gumai Perang Melawan Belanda karya Rustam Effendi dari Gumai Talang dan buku berjudul Tenggapan Terhadap Tulisan Berjudul Gumay Perang Melawan Belanda karya Satria U.S Gumay.SH dari Gumai Lembak. Dua buku yang saya sebutkan diatas tidak diperdagangkan, sebab hanyalah buku panduan/pedoman bagi keturunan suku Gumai secara global.
Kedua buku ini, meskipun menceritakan sejarah suku Gumai, akan tetapi memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam hal motivasi penulisan. Hal ini dapat dilihat pada kata pengantar yang dibuat oleh masing – masing penulis.
Buku yang pertama, seperti diakui penulisnya, kaya akan kisah tetapi miskin bukti sejarah (dalam hal ini, bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah). Sedangkan buku yang kedua menyatakan bahwa suku Gumai tidak miskin bukti sejarah serta membantah hampir 50% isi buku pertama dengan menampilkan sesuatu yang berbeda dan mengedepankan wilayah/marga tertentu dan menolak marga lainnya.
Dua buku yang sama – sama menceritakan satu pokok pembahasan yang sama dengan versi yang brbeda, menarik untuk dikaji, dan dijadikan referensi awal (commentar :setidaknya dapat memahami pola pikir dari dari kedua penulis buku ini).
Buku Gumai Perang Melawan Belanda menyajikan seputar kehidupan masyarakat suku Gumai dan mempunyai misi utama untuk mengangkat sejarah tokoh perjuangan dari suku Gumai menjadi tokoh perjuangan Nasional. (commentar : seperti menegakkan benang basah!).
Sedangkan buku Tanggapan Terhadap Tulisan Berjudul Gumai Perang Melawan Belanda menyajikan bantahan seputar tokoh perjuangan dan versi cerita yang berbeda mengenai sejarah awal tentang asal mula kehidupan muasal Gumai, dalam hal ini Diwe Gumai. (commentar :Serta banyak cerita omong kosong lainnya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan).
Saya juga pernah mendengar bahwa dari Jepang pernah ada seorang yang mengadakan penelitian untuk tesis Sejarah dan Budaya tentang Gumai. Hanya yang saya ketahui, peneliti ini tidak dalam hal meneliti tahun – tahun peninggalan sejarah dan lainnya secara spesifik.
Kalau dari Indonesia sendiri, BELUM ADA SATUPUN.
Ini adalah rintisan awal ke dunia digital
Kritik, saran, dan makian postingkan di blog ini...
Wassalam,
Selasa, 27 November 2007
Alamat Link Referensi
Dear semua,
Nich ada alamat link "DELPHI" yang bagus buanget!
Kalo mo nyari syntax atau source code, silahkan aja nge-link ke website ini :
http://www.delphi-id.org ...full delphi
http://www.delphi.about.com ...full delphi
http://www.delphitricks.com ...full delphi
http://www.q3.nu/trucomania ...full delphi
http://www.delphi3000.com ...full delphi
http://www.chiefdelphi.com ...delphi dan juga robotika
Untuk pertama, gitu aja dech dulu. Semoga cukup membantu...
VIVA Open Source!
Knowledge is Power
Wassalam,
[untuk pertama kali upload data mesti sopan, wakakakakakakakak]
Nich ada alamat link "DELPHI" yang bagus buanget!
Kalo mo nyari syntax atau source code, silahkan aja nge-link ke website ini :
http://www.delphi-id.org ...full delphi
http://www.delphi.about.com ...full delphi
http://www.delphitricks.com ...full delphi
http://www.q3.nu/trucomania ...full delphi
http://www.delphi3000.com ...full delphi
http://www.chiefdelphi.com ...delphi dan juga robotika
Untuk pertama, gitu aja dech dulu. Semoga cukup membantu...
VIVA Open Source!
Knowledge is Power
Wassalam,
[untuk pertama kali upload data mesti sopan, wakakakakakakakak]
Langganan:
Postingan (Atom)


